Beberapa hari yang lalu, masyarakat kita rami sekali membicarakan tentang “Investasi Dana Haji”. Awal mulanya Pak Presiden Joko Widodo tepat pada tanggal 26 Juli lalu melantik Dewan Pengawas dan anggota Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) di Istana Negara. Pada saat pelantikan itu, Presiden Joko Widodo menyarankan bahwa dana haji harus bisa di Investasikan seperti halnya dengan Negara tetangga Malaysia dan Brunai.

Ada sebab ada akibat, Presiden tidak akan mengatakan hal demikian jika tidak ada sebab yang mendasar, ya mungkin salah satu sebabnya, saat beliau berkunjung ke Malaysia dan Brunai dan menemukan pengelolaan haji yang sangat bermanfaat bagi masyarakatnya, atau sewaktu Raja Salman berkunjung ke Indonesia, lalu beliau membisiki Pak Presiden,

“ Pak sampean kok durung duwe hotel Indonesia sendiri nang tanah suci ?  kok sampean kalah sama Malaysia karo Brunai yang Negaranya hanya seuprit’e Indonesia” ~ hust jangan dibawa serius, ini hanya perkiraan saya saja, dan ya jelas gak mungkin Raja Salman berkata dengan logat  bahasa Jawa seperti itu.

Kembali ke topic, Indonesia patut berbangga diri, karena Indonesia memiliki seorang pakar ekonomi Islam yang sudah menjadi panutan bagi seluruh dunia. Dia adalah Dr. Muhammad Syafii Antonio M.Ec, menjadi satu satunya  perwakilan dari  kawasan Asia Pasifik yang diberi amanat menduduki jabatan dewan komisaris IDB (Islamic Development Bank) atau Bank Islam Dunia. Melalui buah pikir beliau beberapa persoalan ekonomi di Indonesia terkhusus ekonomi Islam terselesaikan. Berikut adalah beberapa ulasan dari kutipan Syafii Antonio mengenai investasi dana haji :

  1. Indonesia Adalah Pemain Haji Besar

Indonesia tidak hanya dapat menjadi pemain haji yang besar dalam sisi jumlah jamaah tapi juga bisa menjadi pengembang infrastruktur yang mendukung ibadah tersebut, mengingat dana haji yang sudah ada ditabungan kementrian agama sebesar  Rp 95,2 triliun. Sungguh sangat disayangkan jika dana ini hanya mengendap di tabungan saja, “kita dapat mengelolahnya dan mensejahterahkan jamaah haji kita” kata Muhammad Syafii Antonio dalam diskusi umum bertema reformasi haji di Mesjid Andalusia, Komplek STEI Tazkia, Sentul, Kabupaten Bogor.

 

  1. Investasikan di Dunia Maskapai Penerbangan

Beberapa maskapai penerbangan Indonesia memang sudah ada yang melayani destinasi Indonesia – Arab Saudi. Namun supply untuk memenuhi seluruh jamaah haji dan umrah Indonesia dapat dikata masihlah kurang. “Pengalaman saya, dalam satu minggu saya mengirimkan dua kali, dalam setahun ada 4.000 sampai 5.000 perserta umroh. Ini artinya banyak sekali yang butuh pesawat haji, demikian juga banyak destinasi nasional pesawat Indonesia yang masih kurang sehingga bisa disewakan juga,” ujarnya.

 

  1. Kita Belum Punya Hotel Sendiri di Tanah Suci

Makkah Hilton Towers Hotel

Sangat miris sebenarnya, kita adalah pensupply jamaah haji ke tanah suci terbesar namun tempat penginapan  atau hotel untuk jamaah kita sendiri, bukan berasal dari hotel milik Indonesia. Sangat berbeda jauh dengan Negara Malaysia dan Brunai, yang dapat menfasilitasi jamaahnya dengan hotel milik Negara mereka. Malaysia serta Brunai memiliki jumlah jamaah haji mencapai 10 kali lipat dari jumlah jamaah haji Indonesia. Mereka bisa namun kita belum, sangat miris.

Menurut Syafii jika memang tidak sanggup untuk membangun atau membeli hotel untuk jamaah haji Indonesia. Indonesia bisa mensewanya, “Kita memang tidak bisa memiliki hotel, tapi kita bisa menyewa dalam jangka waktu lama (long term) selama 10 tahun lalu disewakan lagi. Ini sangat-sangat dimungkinkan bagaimana kita memiliki infrastruktur tersebut. Dan jikalau tidak dipakai oleh kita, kita bisa bekerja sama dengan internasional hotel untuk disewakan lagi,” ujarnya.

 

  1. Inestasikan di Perkebunan

Jika kita berinvestasin di deposito sangatlah kecil keuntungannya, di sukuk juga tidak signifikan. Tapi kalau di Investasikan di suatu lahan produktif sangatlah menguntungkan, semisal perkebunan hal ini dikarenakan perkebunan sangat erat kaitannya dengan ketahanan energi

Tabungan haji Malaysia memiliki hampir 1 juta hektar tanah di Indonesia berupa kebun sawit. Hal ini sangat ironis sekali karena negeri yang besarnya hanya 10 persen dari Tanah Air memiliki investasi sawit di Nusantara.

“Dan Malaysia ini memiliki pondokan haji di Mekkah, dengan 1 juta sawit di Indonesia mereka mampu menyewa pemondokan di Tanah Suci dalam jangka panjang karena uangnya kuat,” ujar Syafii.

Mari kita doakan agar Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dapat mengelolah dana haji dengan baik dan jujur. Karena pada prinsipnya menginvestasikan dana haji sangatlah diperbolehkan. Namun perlu diperhatikan secara detail akan aspek syariahnya serta kehati – hatianya. Menginvestasi haji ini sudah harus dilakukan demi lebih mensejahterakan jamaah haji  bukan untuk menyengsarakan jamaah haji Indonesia.