Al kisah disebuah desa cukup jauh dari perkotaan tanah pasundan ada seorang Xue Shi (Pendeta) dari agama Khonghucu yang memliki tujuh orang anak. Pada suatu hari, pendeta tersebut mengumpulkan anak-anaknya pada jam makan siang. “Kalian boleh masuk agama apapun, tapi jangan masuk agama Islam” sang pendeta tersebut berpesan keras kepada tujuh anak-anaknya tersebut. Sontak dari salah satu anaknya ada yang terkejut dengan sikap ayahnya yang melarang untuk masuk ke Islam. 

“Yah, memang mengapa kita tidak boleh masuk ke agama Islam ?” Tanya anaknya yang berusia 14 tahun. “Nak kamu tahu di Indonesia, yang banyak masuk penjara itu siapa ? Orang Islam, Kamu tahu siapa yang banyak mencuri di Negeri ini ? Orang Islam, Kamu tahu siapa yang paling banyak mengkorupsi uang Negara ini ? Orang Islam” Jawab ayahandanya. Sang anak yang sudah dikenal cerdas ini, seketika berfikir dan menjadi sebuah pertanyaan dalam dirinya sendiri. Mengapa ada agama yang pemeluknya banyak melakukan tindakan kemungkaran ? dalam batinnya bertanya-tanya. Lalu mengapa Ayah sama sekali tidak memperbolehkan anak-anaknya untuk masuk ke Agama Islam ? Apa yang salah dengan Islam ? Larangan itu bukan untuk ditaati namun sebaliknya oleh sang anak. Karena rasa penasaran yang besar, sang anak pun mencari tahu pertanyaan yang berkecambuk dalam hatinya.

“Bahwa Agama Islam tidak lah salah, agama Islam tidak mengajarkan kemungkaran, namun mereka-mereka yang berbuat keji lah yang salah, itu oknumnya yang salah, bukan sistemnya”

Keluarga tersebut  tinggal, dimana termasuk dalam desa yang tergolong pelosok, kemudian sang anak  akhirnya pergi ke kota mencari sebuah masjid. Dia mencari sosok ulama yang bisa menjawab segala pertanyaan yang bersarang dikepalanya selama itu. Bertemulah dia dengan KH Abdullah Bin Nuh, yang dijuluki sebagai Al Ghazali dari Indonesia. Si Anak menanyakan terkait pertanyaan-pertanyaan yang berkecambuk dalam hatinya kepada KH Abdullah Bin Nuh itu. Singkat cerita, beliau menemukan jawabannya, “Bahwa Agama Islam tidak lah salah, agama Islam tidak mengajarkan kemungkaran, namun mereka-mereka yang berbuat keji lah yang salah, itu oknumnya yang salah, bukan sistemnya” sang anak menyimpulkan hal tersebut.

Tidak lama mendapatkan jawaban dari sang gurunya, si anak ini secara diam-diam memeluk agama Islam. Hari demi hari tidaklah menjadi masalah bagi sang anak untuk mengerjakan sholat secara sembunyi-sembunyi. Namun, naas bagaimanapun menyembunyikan sesuatu, akhirnya sang ayah mengetahui bahwa anak kandungnya sudah memeluk agama Islam. Namun lama kelamaan sang ayah akhirnya  melihat sang anak sholat dan mengetahui bahwa anaknya sudah memeluk agama Islam. Seketika itu ayahnya yang disegani oleh pengikutnya naik darah, diusirnya sang anak dari rumah tanpa membawa bekal dan pakaian, hanya sehelai kain yang menempel saja yang ia kenakan, sang anak diusir begitu saja. Karena begitu marahnya sang ayah, sampai-sampai tidak mau menganggap lagi dia sebgai anak kandungnya.

 

Diasingkan dalam keluarga membuat anak keturunan Tiong Hoa itu kembali ke Masjid yang dulu membawanya masuk Islam, sehari-hari beraktifitas di masjid, hingga membuat KH Abdullah Bin Nuh merasa terkagum-kagum pada sang anak, karena ada anak remaja Cina putra dari pendeta Khonghucu terkenal yang masih membutuhkan belas kasih orang tua, masih membutuhkan biaya kehidupan dari orang tua namun tetap kokoh pendiriannya ingin belajar Islam sampai sampai merelakan diasingkan oleh keluarganya sendiri. Akhirnya dengan belas kasih KH Abdullah Bin Nuh dibawanya sang anak ke pesantren milik santrinya tersebut.

Mata sipit, putih, sangat jelas perawakan darah Tiong Hoa  mengalir dalam diri sang anak. Awal masuk pesantren dia diledek, dicemooh oleh para teman-temannya. Sang anak yang benar-benar keturunan Cina ini, kemudian stap by stap belajar agama Islam. Tidak disangka-sangka karena ketekuaan dia, dalam satu minggu dia sudah haffal Al Jurmiyah, dalam dua minggu dapat menghafal bait Imrithy dan dalam satu bulan sanggup menghafal bait Alfiyah ibn malik yang merupakan syair-syair tata bahasa arab yang jumlahnya seribu bait, jika di pesantrenku dulu, rata-rata santri dapat menghafal kitab-kitab tersebut paling cepat adalah enam bulan. Dia mengalahkan anak-anak yang dari lahir sudah masuk Islam, seketia teman-teman yang awalnya mencemooh berubah menjadi menghormatinya. Satu tahun dilewati beliau berhasil meghafal satu penuh Al Qur’an, dan diamanahi oleh Kiyainya sebagai asisten pengasuh. Sang anak tumbuh makin besar, kemudian mengisi pengajian dari satu desa ke desa lain, dari satu kota ke kota lain menggantikan kiayinya.

Hingga akhirnya sang anak pergi ke Yordan untuk melanjutkan study S1, kemudian ke Malaysia S2 dan mengambil gelar doctoral di Australia. Semua biaya perkuliahan hingga biaya hidup yang dilalui sang anak merupakan hasil keringatnya sendiri tanpa meminta kepada orang tua atau ke orang lain. Bahkan saat sudah mengenyam pendidikan luar negri sang anak rutin setiap bulan mengirimkan uang ke ayahanda dan ibunda di kampung, dengan nominal yang tidak sedikit. Hal tersebut membuat keluarga yang dulu mengasingkannya, dan mengucilkan sang anak, perlahan demi perlahan berubah, merangkul kembali sang anak dalam keluarga.

Sekarang sang anak sudah berusia setengah abad, 50 tahun. Tumbuh menjadi besar dan menjadi salah satu ulama di tanah air. Berkat kiprah jasa beliau, beliau berhasil mengislamkan hampir semua bank di Indonesia. Diangkat langsung oleh Presiden Joko Widodo sebagai ketua komite Ekonomi Syariah Indonesia di kabinetnya. Menjadi imam Ekonomi Islam di Indonesia, serta sang anak sekarang menjadi satu satunya orang Indonesia yang menjadi dewan komisaris IDB (Islamic Development Bank) yang merupakan ibu dari seluruh bank Islam di Dunia. Menjadi satu satunya dosen terbang yang terpercaya untuk mengajarkan Ekonomi Islam di Universitas terkemuka di Eropa bahkan dunia, Oxford University dan Harvad University.

“There’s no independence if there’s no independence Finance”

Dia adalah Dr Muhammad Syafii Antonio M.Ec, rektor Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia. Kampus Ekonomi Islam yang pertama dan menjadi kampus pelopor Ekonomi Islam di Indonesia. UI, UGM, UNAIR dan sederet Perguruan Tinggi terkemuka di Indonesia menjadikan STEI Tazkia kiblat utama mengenai kurikulum Ekonomi Islam. Terlepas dari seklumit cerita perjuangan beliau diatas, ada satu point yang menjadikan pembelajaran sendiri terkhusus untuk penulis, yaitu hidup mandiri dalam segi ekonomi. Dr Syafii Antonio  M.Ec, sering berpetuah kepada sang penulis pada setiap kuliah umumnya, beliau menyampaikan “There’s no independence if there’s no independence Finance”. Tidak mungkin akan ada kemerdekaan sejati, kemerdekaan abadi selain kemerdekaan Ekonomi. Artinya, bagaimanapun jika keuangan, perekonomian kita masih tergantung oleh orang lain, maka kemerdekaan hanyalah sebuah ilusi semata. Karena pada hakikatnya, diri kita tidak pernah merdeka jika kehidupan kita tidak mandiri dalam segi ekonomi. Sang guru, Ayahanda Syafii Antonio (panggilan akrab bagi mahasiswanya) sudah mencotohkan hal tersebut. Beliau berani dan bisa membuktikan bahwa dengan diusirnya dia dari rumah dan tidak membawa apapun, beliau bisa merdeka menentukan agama yang diyakininya. Jika beliau masih meminta atau ketergantungan secara finance kepada orang tuanya, maka secara otomatis kehidupan beliau dulu tidak lah seperti sekarang.

Point pembelajaran hidup tersebutlah yang sedang penulis coba lakukan, mencoba menjadi pribadi yang mandiri, merdeka dalam ekonomi. Alhamdulillah, syukur terucap, sekarang penulis perlahan-lahan sudah dapat menghidupi kehidupan pribadi serta meneruskan pendidikan jenjang S1 dengan biaya sendiri. Semoga kelak, dengan langkah memerdekakan finance ini, dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amin.

 

*Tulisan kisah perjalanan Dr Muhammad Syafii Antonio M.Ec diatas, diambil dari pendegaran saat sesi training Prolm yang diadakan langsung oleh beliau. Jika ada kesalahan mengenai kisah tepat beliau, penulis menerima koreksian dan meminta maaf sebesar-besarnya.