“Dunia ternyata sempit yah ? Ehh., ternyata kita masih saudara”

    IMG_20150606_171036 Sering denger kaliamat seperti itu sobat ? kalau saya pribadi bukan sering mendengarkan lagi, melainkan sudah terbukti dalam hidup saya. Beberapa minggu lalu, saya mendapatkan undagan dari panitia #WeGI3Semenku untuk mengikuti acara Wisata Green Industy yang diadakan oleh PT Semen Indonesia (persero) Tbk. Saat hendak memutuskan untuk berangkat dan tidaknya, saya memikirkan akan berangkat dengan siapa ? nasib jadi jomblowan sejati tuch begini, selalu bingung ngajak siapa untuk bisa digandeng dalam acara, atau pun sekedar jalan-jalan. Pacar ajah gak punya, sebenarnya saya iri dengan mereka yang kemana-mana bisa jalan sama pacarnya, lah saya ? Ehh…. Curcol. Alhasil saya menelfon sahabat akrab saya, sahabat yang akrab sejak masih di pesantren, Trian. Dia adalah patner organisasiku dulu, jadi kita begitu akrab. Oh ya selain keakraban kita, saya berani mengajak dia karena kebetulan dia berdomisili di Purwokerto, dan saya di Brebes, kita berniat untuk mengunjungi #WeGI3Semenku dari arah selatan (Yogyakarta).

               Setelah menghubunginya, dan dia bersedia akhirnya kami mempersiapkan pemberangkatan. Menjelang hari pemberangkatan, Jum’at (5/6) tiba-tiba dia mengagalkan rencana pemberangkatannya, dikarenakan urusan pekerjaan. Damn ! nambah bingung saya, akan berangkat dengan siapa, nasib-nasib, jomblo., *GelengPala*. “Jomblo tuch pilihan, bukan nasib !” gerutu dalam batin saya, merasakan bahwa jomblo itu lebih terhormat. So, bukan halangan kerena jomblo jadi gak bisa ikutan #WeGI3Semenku, langsung saya menghubungi kawan-kawan komunitas blogger saya  (Sandal Selen), mengkonfirmasi siapa yang akan mengikuti #WeGI3Semenku. Emang dari awal berniat baik untuk memenuhi undangan, pastilah Allah memberikan jalan bagi hambanya. Akhirnya saya mendapatkan nama kawan yang hendak ikutan #WeGI3Semenku, Luthfi. Segera langsung ku hubungi dia guna mengurus pertemuan dan hal-hal yang menyangkut pemberangkatan.

      Kami bersepakat untuk berangkat via jalur selatan, bergabung bersama rombongan dari Yogyakarta dan sekitarnya. Karena pemberangkatan dari Jogja Jum’at malam, kami pun memutuskan untuk berangkat dari Brebes pada Jum’at paginya. Berhubung kawan saya, Luthfi ada urusan di  pesanteren dan saya juga ada urusan dengan kawan yang berdomisili di Bumiayu, jadi kami sepakat start dari Bumiayu (Brebes Selatan).

Berangkat Menuju Bumiayu

            Bumiayu adalah salah satu kecamatan di Brebes selatan, disanalah komunitas Sandal Selen lahir, terlahir dari induknya Al Hikmah 2, tempat dulu saya mengadu ilmu. Letaknya cukup jauh dari rumah saya yang berada di Brebes, dua jam setengah waktu yang ditempuh untuk sampai di kecamatan kecil itu. Saya memutuskan berangkat ke Bumiayu pada hari kamis (4/6) untuk menyelesaikan beberapa urusan dengan kawan lama saya.

           Kamis siang, setelah makan siang saya berangkat menuju Bumiayu mengunakan truck proyek jalan tol, loch ko bisa ? hehe… sebenarnya saya berniat menggunakan angkutan umum sejak awal keluar rumah, karena angkutan desa yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang, dan yang seliweran di jalan depan komplek perumahan saya adalah truck-truck proyek jalan tol di pantura. Akhirnya saya memberanikan diri, melambaikan tangan ke salah satu truck pembawa tanah itu. Tak lama menunggu, cukup dengan satu hempasan tangan melambai, sebagai tanda permintaan menebeng, truck yang berada di depan mata saya pun terhenti dan akhirnya saya naik.

      Truck melaju cukup pelan, karena harus antri dengan truck-truck yang lain ditambah dengan kondisi jalan yang sempit dan kondisi  jalan yang berlubang karena dilalui truck bermuatan berton-ton setiap harinya. “turun mana mas ?” Tanya sang sopir asal Magelang itu. “saya turun dipasar Margasari saja pak” jawabku dan berniat untuk melanjutkan perjalanan dengan bus, sambil menatap muka bapak sopir. Namun saat menjawab pertanyaan dari sang sopir, saya merasa heran dengan muka yang ditunjukan olehnya. “Jangan-jangan ini truck tak sampai di daerah yang saya maksud” gumam kehawatiranku dalam hati.

          Benar ! apa yang saya khawatikan ternyata terbukti, sebelum sampai di pasar Margasari ternyata truck berbelok ke kanan tak menuju arah pasar Margasari. “ini belok pak ? ambil tanahnya disini ?” tanyaku. “iya mas saya ngambilnya disana” jawabnya sambil menujukan ke arah gunung kapur. *TepokJidad* saya seketika bingung saat itu, melihat kondisi kanan dan kiri saya saat turun dari truck adalah hutan pohon jati, alamakkkk…. Mana mungkin ada angkutan desa yang melintas dijalan non penduduk ini, jarak menuju pasar Margasari masih cukup jauh pula, kondisi jalanan sepi. Hallahhh… mau enggak mau saya akhirnya berjalan kaki, dikondisi yang sepi dan diapit kanan-kiri hutan pohon jati.

              Setelah berjalan beberapa meter, saya melihat beberapa truck dibelakang saya sedang melaju dengan cepat. Saya langsung melambai-lambaikan tangan saya, berniat nebeng lagi. Dua, tiga hingga lima truck lewat begitu saja, tanpa menghiraukan kondisi saya, jalanan sunyi kembali. Sambil berjalan, berulang kali saya tengok ke belakang, berharap ada truck yang hendak lewat, naass., sudah tidak ada. Beberapa menit kemudian, terlihatlah tiga truck hendak melintas melewati ku, truck pertama ku lambaikan permohonan ku dengan mengayuhkan tangan, sang supir tak bersedia, begitu truck ke dua, dia membiarkan ku melambai. Tiba lah truck yang terakhir, ku lambaikan tanganku, tapi rupanya dia lewat begitu saja. Sedih rasanya, ‘seeettttt….’ Tiba-tiba bunyi rem truck yang ketiga itu mendadak  berhenti dan memperbolehkan saya untuk nebeng di trucknya, dengan lari sekuat tenaga saya mengejar truck berwarna biru itu, dan akhirnya saya naik, Alhamdulillah.

           Ternyata sang sopir hendak menuju ke Prupuk, itu berarti saya bisa nebeng lebih jauh dari rencana awal yang hanya sampai di Pasar Margasari. Karena jarak Prupuk ke Bumiayu bisa ditempuh 15 menit mengunakan bus umum.

           Setelah sampai ditujuan sang supir, saya turun dan melanjutkan perjalanan menuju ke Bumiayu mengunakan Bus umum. Setelah hendak sampai tujuan, tiba-tiba hujan turun dengan deras, langsung ku pasang parasut ditas. “Kiri om…” pintaku menghentikan sang sopir bus. Alamaakk…. Saat hendak turun ternyata genangan air sudah menyambutku, dengan terpaksa saya harus menapak digenangan tersebut, sobat tahu ? saya mengenakan alas kaki sepatu, yups., pastilah basah kuyup sepatu saya. 🙁

Berangkat menuju acara #WeGI3Semenku

            Jum’at pagi (5/6) akhirnya saya bertemu dengan Luthfi didekat lingkungan pesantren. Saat hendak berangkat menuju terminal, saya disuruh menunggu temannya satu lagi. “eh., bentar Zis tunggu si Bilqis” ucapnya. “Ha.,? kamu ngajak Bilqis juga ? yang katanya itu saudara jauh ku ?” Tanya ku kaget. “iyaa.. masa saudara sendiri gak tahu” timpalnya.

            Oke, akhirnya kita berdua nunggu Bilqis, biasalah kalau cewek pasti dandannya lammaaaa binggittt. Oh ya., sobat sekalian pasti bingung, kenapa saya dan Bilqis saudara tapi tak saling paham satu dengan yang lainnya. Jadi begini sob, dulu saat saya melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang diadakan oleh sekolah, saya bertemu dengan bude saya di Jogja. Menurut penuturan beliau ternyata ada saudara saya yang pesantrennya satu almamater dengan saya. Ternyata usut punya usut saya dan Bilqis saudara jauh, tapi gak pake benget sih., cukup jauh 😀 . Nenek saya adeknya neneknya Bilqis, begitulah, jauh gak ? lumayan yah hihi.,. Tapi satu almamater masa gak paham juga ? eitss., bagi sobat yang pernah mengalami kehidupan di pesantren pasti tahu, bagaimana hubungannya santri laki-laki dengan santri putri, susah. Karena pesantren kami memisahkan antara Akhwat dengan Ikhwan, jadi kami tak bisa saling sapa ataupun hanya ngobrol biasa.

            Begitulah pertemuan kami, tiga tahun lamanya bersemedi dalam satu almamater, barulah keakraban diantara kita berdua terjalin, ini berkat acara #WeGI3Semenku tali persaudaraan kita terikat kembali, senyum, canda dan tawa terurai  dalam perjalanan kita berkunjung ke PT Semen Indonesia (Persero) Tbk  diacara #WeGI3Semenku. Trimakasih PT Semen Indonesia (Persero) Tbk   🙂