Perjalanan menuju Jogja

“It’s been a long day, without you my friend, And I’ll tell you all about it, when see you again, we’ve come a long way.,.,.”

          Saya sumpalkan handset ke telinga, mendengarkan lagu dari Wiz Khalifa, Play list lagu berjudul See You Again. Ku lihat alrogi di telefon gengamku menunjukan pukul 15:30. Mentari memulai akan kembali ke peraduannya, cahaya kekuningan menembus kaca jendela bus, cukup menyilaukan, lalu kulihat beberapa papan di sekolahan dasar tertera nama sebuah kota, Purworejo. Dibalik kaca jendela pula ku perhatikan  hamparan padi yang sudah menunduk kuning, kuningnya padi sangat terlihat jelas dengan sorotan mentari yang juga kekuningan, tanda musim panen akan segera tiba, sungguh suasana yang begitu mengembirakan.

           “Gruuukkk…” tiba-tiba terdengar suara dari bawah bus, rasa-rasanya dari bawah kursiku. Saya dan beberapa penumpang khawatir apa yang sudah terjadi dibus yang saya tunggangi itu. Sang supir bus pun menghentikan laju bus, mengecek apa yang sudah terjadi dibawah bus. Setelah mengecek bersama kondekturnya, ternyata per bus yang kami tunggangi patah. Dikondisi kanan kiri adalah sawah dan tak ada bengkel, sang supir memutuskan tetap melaju dengan lambat sembari mencari bengkel.

          Setelah berjalan dengan lambat selama kurang lebih 30 menit, akhirnya kami menemukan bengkel. Padahal Jogja sudah dekat, tinggal menempuh waktu satu jam saja, sampailah di kota pendidikan itu. Tapi, apalah kata, yang namanya musibah tak ada yang tahu kapan waktunya dan dimana tempatnya.

            Setelah dicek oleh beberapa montir bengkel, ternyata per bus kami mengalami kerusakan yang cukup parah. Diperkirakan oleh montir bengkel, bus yang kami tunganggi akan bisa melaju kembali setelah mengalami perbaikan kurang lebih satu jam. Sebagian penumpang terlihat kecewa, karena tak bisa sampai Jogja pada jadwal yang mereka kira. Sembari menanti perbaikan, sang kondektur dan supir bus menghubungi pihak armada P.O bus.

            Setelah sekitar 40 menit para penumpang menunggu bus penganti, akhirnya bus yang ditunggu-tunggu pun tiba. Secara bersamaan dua bus dari P.O yang kami tungangi tiba. Kami pun melanjutkan perjalanan.

         Pukul 17:00 saya dan kawan saya akhirnmya tiba di kota pendidikan, Yogyakarta, kita bertiga langsung bersambang kerumah kordinator pemberangkatan via Jogja, Pak Wahid AR. Setelah mandi, sholat serta tak lupa untuk mengisi perut kami, kami pun berangkat menuju ke terminal Giwangan berkumpul dengan para peserta yang lain, guna berangkat menuju Surabaya.

Perjalanan menuju Surabaya

             Tepat pukul 22:00 WIB kami melaju mengunakan bus cepat menuju Surabaya, saya memilih duduk bersama dengan Bilqis, mengobrol banyak tentang keluarga besar kami hingga tertidur pulas. (Baca : #WeGI3Semenku Mempertemukan ku dengan Saudaraku)

      Eitsss., sebenernya saya mau kemana ? hehe., oh ya guys saking asiknya ngebanyol, jadi lupa ngasih tahu didepan kalau saya mau beriswata ria. Ehh., jangan anggap wisata kali ini adalah wisata seperti biasanya yahh (pergi ke laut, gunung, atau treveling di kota orang). Tapi, berwisata ke industry semen, Haa  ? wisata ko ke pabrik ? Gak seru donkkk.,,  ehh., jangan salah yaa ! wisata kali ini seru abisss, gak percaya ? yokk lanjut baca cerita saya tentang wisata kali ini.

       Perjalanan kali ini, saya dan beberapa komunitas blogger akan menghadiri undagan dari PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk  yang menyusung acara #WeGI3Semenku. Acaranya mengundang komunitas on dan offline seluruh Indonesia, namun terlihat lebih dominan komunitas online lah yang hadir, dari para facebooker hingga blogger. Wisata Green Industy, itulah tema yang diusung oleh panitia PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk  sudah melaksankan kegiatan Wisata Green Industy untuk ketiga kalinya, dan baru pertama kalinya saya mengikuti program tersebut.

                                                                  ***

           Mata saya tiba-tiba terbuka, melihat tak ada cahaya dalam bus dan ternyata bus sedang berhenti. Awalnya saya kira sudah sampai tujuan karena jam di hp saya menunjukan pukul 04:30 pagi, namun ternyata perkiraan saya salah, bus berhenti bukan karena sudah tiba, melainkan ban depan bus yang kami tunggangi bocor

          Sebagian dari kami membantu kondektur dan supir menganti ban, saya dan beberapa kawan komunitas yang lainya memilih mencari musholah guna mendirikan sholat Subuh. Cukup lama proses pengantian ban ini, hingga matahari terbit sekitar pukul 06:00 pagi kondektur serta supir masih ngotak-atik. Ternyata tak hanya bocor, ditambah ring (baud) untuk menekan kekencangan ban sudah dol, sudah tak bisa digunakan dengan maksimal. Sembari menunggu perbaikan ban bus, iseng saya membuka aplikasi Google Maps di smartphon saya, guna mencari tahu di kota mana keberadaan saya saat itu. Mojokerto, ternyata sudah sampai di Mojokerto, padahal sekitar dua  jam lagi, tiba di Surabaya. Yahh., mau dikata apalagi yang namanya musibah. Hampir mirip kisahnya seperti perjalanan saya dari Bumiayu ke Jogja, seperti yang saya ceritakan diatas, padahal satu jam lagi pula akan tiba di kota tujuan, tapi berkendala di bus. Ya syudahlah, memang kita diperintahkan untuk bersabar.

           Ternyata sang supir dan kondektur menyerah, tak bisa memperbaiki sendiri mereka membutuhkan jasa montir bangkel, guna menganti baud yang sudah dol tersebut. Dengan segala pertimbangan, akhirnya pada pukul 06:15 bus melaju dengan lambat, sembari mencari bengkel yang buka di jam pagi itu. Hampir 30 menit kita melaju dan akhirnya menemukan bengkel yang dapat memperbaiki kerusakan pada bus kami. Tak memakan waktu lama, akhirnya bus pulih kembali, dan kami melanjutkan perjalanan.

             Akibat kejadian itu, target yang harus tiba di terminal Bungurasih sekitar pukul 06:00 ngaret dua jam, kami tiba di terminal Bungurasih, segenap panitia dan beberapa komunitas yang berasal dari Surabaya akhirnya rela menunggu kedatangan kami, hingga dua jam lamanya di terminal. Ada rasa tak enak dengan mereka yang sudah menanti kedatangan saya dan rombongan, tapi mau dikata apalagi ? kita habis terkena musibah. Kemudian saya dan rombongan diperkenankan oleh panitia untuk beres-beres sebentar di kamar mandi terminal. Tak menunggu lama, akhirnya saya dan rombongan dari Jogja dibagikan baju yang keren dan segala atribut peserta yang diberikan oleh panitia. Eitss., panitia juga ngasih kita sarapan, hehe., Alhamdulillah perut saya yang sudah keroncongan, akhirnya bisa diisi 😀

Perjalanan menuju Gersik

            Perjalanan dilanjutkan, dengan tujuan utama kami pabrik  PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk yang berada di Tuban. Sebelum ke Tuban saya dan peserta #WeGI3Semenku mampir sejenak di Kantor PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk yang berada di Gersik, guna berganti kostum, berganti menggunakan baju yang telah diberikan oleh pihak panitia #WeGI3Semenku dan menengok salah satu Unit Usaha Masyarakat (UKM) binaan PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk yaitu Pujasera (Pusat jajan serba ada).

wegi4

PUJASERA (Pusat Jajan Serba Ada)

       Setelah berganti kostum dan membeli jajan di Pujasera. Lantas  mampir ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngipik, Gersik, di TPA Ngipik peserta diperlihatkan salah satu programnya PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk, yaitu Refused Derivated Fuel (RDF), program ini bertujuan mengubah sampah menjadi : bahan timbunan, pupuk organic dan Bahan Bakar Alternatif (BBA) yang tentunnya digunakan untuk bahan bakar produksi pembuatan semen, mantap !.

            Guys tahu kah kalian ? bahwa luas area TPA Ngipik adalah enam hektar dengan jumlah sampah sebesar 240 ton/hari. Program  Refused Derivated Fuel ini sangat potensial sebagai bahan bakar alternatif karena memiliki nilai kalori yang cukup tinggi, yaitu berkisar antara 3.500 – 5.000 kcal/kg, keren kan., ?

            Tak jauh dari TPA Ngipik, sambil melanjutkan perjalanan menuju Tuban kita disuguhkan pemandagan sungguh asri, telaga Ngipik. Telaga Ngipik dengan seluas 48,92 hektare ini dulunya adalah bekas penambangan tanah lapang oleh PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk, demi menghindarai kerusakan pada alam, PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk, akhirnya bekerja sama dengan organisasi Bina Lingkungan untuk membuat lingkungan di sekitar pabriknya agar terhindar dari polusi akibat limbah industry. Kemudian  difungikanlah lahan berlubang tersebut menjadi telaga, yang bernama telaga Ngipik.

Asrinya Telaga Ngipik

Asrinya Telaga Ngipik

Perjalanan menuju Tuban

            Selesai berkeliling di Gersik kami melanjutkan perjalanan kami, pabrik PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk di Tuban. Bus yang saya tunggangi bersama peserta yang lain ternyata adalah bus yang terakhir, dari empat bus rombongan dari Surabaya. Ditengah perjalanan, ternyata sang supir kehilangan jejak dengan bus yang berada di depannya  Alamakkk., sekarang tinggal kesasar, *TepokJidad* sejak awal berangkat menuju acara #WeGI3Semenku Per bus patah di Purworejo, kemudian ban bocor di Mojokerto saat hendak menuju Surabaya, sekarang ? tinggal kesasar di kota Tuban, ditambah dengan kondisi jalanan yang macet.

            Kami tersesat hingga melintas jalan paling ujung di utara Tuban hingga terlihat pantai utara. Setelah dua panitia yang berada di bus kami, berkordinasi dengan pihak panitia yang sudah tiba dilokasi, akhirnya panitia memutuskan untuk memutar arah karena kita salah jalur dan tentunya bertemu dengan macet lagi. Sabar., sabar., hanya itu yang bisa saya ucapkan. Hampir satu jam setengah  kita memutar balik, dan akhirnya tiba juga di pabrik PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk Tuban.

            Tiba pukul 14:30 di pabrik PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk Tuban, seketika rasa kesal oleh perjalanan yang panjang dan penuh dengan hambatan hilang seketika. Mata saya dimanjakan oleh lingkungan pabrik yang bersih nan hijau. Wowoww Amazing ! tak pernah saya bayangkan sebelumnya akan berwisata di pabrik yang begitu ramah lingkungan.

            Kedatangan kami di pabrik PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk Tuban pun disambut sangat hangat oleh panitia #WeGI3Semenku. Sangat baik hatinya panitia, kami langsung mempersilahkan kami untuk makan siang (ayeee., ini yang ditunggu-tunggu #ups).

            Setelah ishoma (istirahat sholat dan makan), kami para peserta lanjut diagenda selanjutnya yaitu sesi diskusi bersama para jajaran direksi PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. Kami dijelaskan bermacam-macam mengenai PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk, sejak awal berdiri hingga sampai saat ini, dengan kapasitas produksi semennya terbesar di dunia, Wooww ! serta memaparkan beberapa teknologi cangih yang digunakan oleh PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk (Baca : Sembilan Teknologi Cangih dibalik Hijaunya PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk ).

            Tak hanya itu, setelah sesi diskusi selesai, kami diajak berkeliling mengitari pabrik. Melihat bagimana proses produksi semen hingga akhir. Melihat alat-alat cangih, mesin-mesin besar yang minim akan operator. Melihat lahan tambang batu kapur dan lahan reklamasinya, pokonya keren !

Pulang

            Pukul 19:30 acara sudah berakhir, tentunya setelah acara doorprice.  Alhamdulillah, di kuis doorprice ini saya mendapatkan buku, “Pride of a Nation The Corporate of Semen Indonesia” karya Dwi Soetjipto. Seluruh peserta diantar pulang oleh panitia #WeGI3Semenku, kami rombongan komunitas dari Yogyakarta hanya diantar hingga terminal Bungurasih, Surabaya yang pastinya sudah mendapatkan uang saku dan gudi bag dari PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk 🙂 .

Pride Of A Nasional-500x500

Dapet door price buku 🙂

            Perjalanan kali ini, sungguh sangat berkesan, dan sudah mencoretkan kenangan tersendiri di perjalanan hidup saya. Ada pelajaran yang saya ambil dari perjalanan kali ini, bahwa tak semuanya industry pabrik itu merusak lingkungan ! atau merusak hijaunya lingkungan sekitar. Terimakasih PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk, terimaksih sudah memberikan pelajaran yang banyak dari perjalanan hingga bisa mengenal mesin-mesin pabrik. Terimaksih pula kepada seluruh kawan komunitas On dan Offline yang sudah bisa menjadi tali pertemanan baru di acara #WeGI3Semenku.